Rabu, 16 Desember 2015

SEPERTI KELUARGA PRIAYI











Pagi-pagi sekali mereka sudah dibangunkan oleh petugas. Mereka kemudian membersihkan diri di kamar mandi stasiun. Cukup lama mereka mandi. Sampai dua tiga kali mereka sabunan dan keramas. Terutama Paiman, perlu penanganan ekstra untuk menghilangkan daki di tubuhnya yang sudah berkarat. Disabun, digosok, disabun dan digosok. Meskipun Paiman meronta-ronta dan menangis sejadi-jadinya, mbok Kromo tidak peduli. Disabun dan digosok terus  sampai bersih – sih, wangi  dan segar. Seolah-olah dia ingin mencuci bersih bekas-bekas aroma pengemis dan gelandangan dari tubuhnya dan mengganti dengan aroma dan aura seorang anak priyayi. Giginya yang kuning disikat pakai odol sampai cling putih berkilau, Kuku-kukunya yang hitam bekas mengaduk-aduk sampah dipotong dan disikat bersih. Rambut Parinten yang semula agak gimbal karena jarang keramas dan jarang disisir serta banyak kutunya pun dikeramasi berulang-ulang pakai shampoo dan sabun sambil disisiri sampai benar-benar bersih, wangi dan tidak kusut seperti habis direbonding.


Mulai sekarang mereka harus membiasakan diri menjalani hidup sebagai orang yang beradab yang selalu tampil rapi, bersih dan wangi. Semua memakai baju baru yang sudah diberi wewangian. Semua pakaian yang beraroma tong sampah dibuang di tong sampah. Anggap saja sebagai buang sial, buang cap gelandangan yang kumal, dekil dan bau selokan.  Rambut mbok Kromo yang hitam panjang disisir rapi dan digelung dengan tusuk konde gading. Begitu juga rambut Parinten yang panjang dan tebal dikepang dua dan diikat pakai karet gelang. Untungnya rambut Paiman belum lama potong bros, jadi masih nampak rapi. Semua memakai alas kaki. Mbok Kromo memakai sandal kulit yang baru. Parinten dan Paiman mengenakan sepatu ket. Khusus Paiman, dia mamakai setut baru yang kemarin dibeli di kereta. Setut yang sudah lama diimpikannya yang sisa ujungnya dibiarkan menggantung melambai-lambai.

Sekilas orang tidak menyangka mereka itu siapa. Orang tidak akan menyangka jika mereka baru saja lepas dari kubangan  kehidupan yang amat kumuh, kumal dan bau selama dua tahun. Mereka mengira mereka adalah keluarga terhormat yang sedang bepergian jauh. Para pedagang di stasiun pun memanggil mbok Kromo dengan sebutan “Ndoro” dan “Den” kepada anak-anak. Mbok Kromo seolah merasa baru terbangun dari mimpi mendengar panggilan seperti itu. Berbunga-bunga hatinya dan menambah semangat untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik di lingkungan baru dan cara hidup baru pula.

Siapa yang menyangka kalau mereka adalah bekas pengemis dan gelandangan. Meskipun kulit mereka tidak seputih dan sebersih para priayi, tetapi secara keseluruhan mereka nampak tidak jauh beda dengan para priyayi. Mbok Kromo meskipun sudah punya anak dua, tapi masih nampak cantik, muda dan segar. Begitu juga dengan kedua anaknya nampak sehat, lucu, lincah dan pintar. Pakaian merekapun  rapi, bersih dan wangi.

Dia ingin hidup layaknya manusia normal lainnya dan sejajar dengan mereka. Dia ingin mengubur dalam-dalam masa lalunya dan bangkit dengan kehidupan baru yang sama sekali berbeda. Dia tidak mau menjadi gelandangan lagi. Dia tidak mau mengemis lagi. Dia tidak mau makan sisa-sisa makanan dari tong sampah lagi. Dia ingin hidup normal bersama kedua anaknya layaknya manusia pada umumnya. Dia ingin tinggal di dalam sebuah bangunan yang namanya  rumah, biarpun hanya menyewa. Apapun bentuknya. Bagaimanapun sempitnya. Yang penting namanya rumah. Dia akan bekerja apapun asal halal dan tidak mengemis. Dia tidak akan mencari sisa-sisa makanan di tong sampah  bagaimanapun laparnya. Dia akan mengupayakan agar anak-anak dapat bersekolah dan bermain dengan anak-anak lain yang seusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar