Rabu, 16 Desember 2015

BABAK BARU DI TANAH IMPIAN






Bus yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Tepat jam 06.00 pagi mereka berangkat menuju kota Winongo. Jaraknya lumayan jauh, sekitar 30 km, cukup untuk makan pagi. Mereka menghabiskan bekal nasi dan lauk yang dibawa kemarin. Untungnya belum basi.  Mbok Kromo ahlinya bikin  masakan agar tidak cepat basi. Sekitar jam 08.00 mereka tiba di patung Tani. Mereka turun. Di seberang jalan dari patung Tani sudah nampak rumah petak dari bambu yang memanjang menghadap ke jalan raya. Di sebelahnya lagi ada bangunan tua yang sudah lama tidak ditempati


Sebelum menemui keluarga mbok Rebo, mbok Kromo ingin mempersiapkan diri dulu, menata kata-kata dan perasaan sambil istirahat. Kebetulan sekitar seratus meter dari rumah yang dituju ada tempat nyaman dan teduh, yaitu di bawah pohon Munggur besar yang amat rindang. Mbok Kromo menggelar kain kemudian rebahan. Biasa kalau sudah begitu pasti minta diinjak-injak punggungnya untuk menghilangkan segala ketegangan dan kepenatan setelah melakukan perjalanan yang demikian jauh dan melelahkan. Paiman dan Parinten pun tahu apa tugasnya. Paiman menginjak-injak di bagian kaki, Parinten di bagian punggung. Baru sebentar mbok Kromo sudah terlelap saking nyamannya.

Sekitar satu jam mereka rebah-rebahan di tempat yang teduh dan nyaman itu. Setelah merasa segar kembali, mbok Kromo berbenah diri bersiap untuk menemui keluarga mbok Rebo. Mbok Kromo dan kedua anaknya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah yang ditempati mbok Rebo yang sudah nampak di depan mata.

Di rumah petak itu ada empat pintu. Yang paling ujung sebelah kanan buat usaha bengkel sepeda. Yang paling ujung sebelah kiri buat jualan material bata merah dan pasir. Pintu nomor 2 dari kiri kosong dan pintu ketiga ditempati keluarga mbok Rebo.

Kebetulan di halaman rumah yang lumayan luas dan tumbuh sebatang pohon jeruk bali yang cukup rindang dan lebat buahnya. Di bawahnya nampak seorang gadis kecil seusia Paiman yang nampak tidak asing bagi mbok Kromo. Dulu waktu di kampung pernah ketemu, namanya Sumarsih. Dia anak bungsu mbok Rebo.  Kebetulan sekali.

“Kamu Marsih kan? Di mana Mbokmu?” Tanya mbok Kromo sambil mengelus rambut Marsih yang dikepang dua.

“Ya Lik. Mbok.... Simbok... Ini ada tamu, Mbok!” Jawab Sumarsih sambil memanggil ibunya.

Tidak lama kemudian muncullah mbok Rebo. Dan terjadilah acara kangen-kangenan. Acaranya bertambah seru ketika pak Rebo bersama kedua anak perempuannya baru pulang dari kerja. Mbok Kromo menganggap mbok Rebo sebagai dewa penolong yang telah menyelamatkan dirinya bersama kedua anaknya keluar dari kenistaan. Sore itu juga mbok Kromo dipertemukan dengan pemilik rumah. Beliau setuju untuk sewa selama satu tahun.

Kini  mbok Kromo dan kedua anaknya bukan  gelandangan lagi. Mereka sekarang punya tempat tinggal tetap meskipun hanya menyewa. Persoalannya sekarang tinggal satu, yaitu bagaimana supaya tiap hari bisa makan biar tidak mati kelaparan.

Di sinilah akhirnya mbok Kromo menetap dan bekerja sebagai pedagang buah-buahan di pasar. Kedua anakanyapun dapat bersekolah dan mengaji.


Inilah tujuan utama mengapa mbok Kromo lebih memilih pergi meninggalkan kehidupan nomaden bersama pak Kromo. Lingkungan baru seperti inilah yang diinginkannya. Lingkungan yang memungkinkan kedua anaknya dapat menggapai masa depan yang lebih baik.

Meskipun mbok Kromo tidak pernah mengenyam bangku sekolah dan buta huruf, namun dia menyadari betapa pentingnya pendidikan formal bagi masa depan kedua anaknya. Kalau kedua anaknya dibesarkan sebagai keluarga pengemis yang nomaden bagaimana keduanya dapat pergi ke sekolah. Kalau yang diajarkan kepada kedua anaknya hanya ketrampilan mengemis, maka sampai dewasa keterampilannya juga hanya mengemis.  Tinggi-tingginya kalau jadi orang baik paling hanya menjadi pengamen. Kalau tumbuh menjadi orang tidak baik, misalnya karena pengaruh lingkungan, mungkin bisa jadi pencopet atau pembegal dan lain-lain.

Mbok Kromo hanyalah orang udik dan buta huruf namun dia punya kemauan dan wawasan jauh ke depan. Oleh karena itu ketika dia mengetahui tempat tinggalnya yang baru ini, dia langsung nyaman dan betah. Lingkungan yang begitu nyaman, indah, damai dan subur, sawah-sawah dan ladang menghijau. Airnya pun melimpah. Di sini ada SD, ada Pesantren. Tiap waktu sholat tiba terdengar suara adzan bersautan dari beberapa masjid di kampung-kampung tetangga.

Di sinilah masa depan kedua anaknya akan diraih. Semua mimpinya akan diukir di tanah impian ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar