Di sebagian besar daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta memiliki 5 hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon. Hari pasaran merupakan puncak keramaian suatu pasar. Sudah menjadi kesepakatan tidak langsung dan tidak tertulis antar para pedangang antar kota di suatu wilayah untuk berpindah dari pasar satu ke pasar lainnya secara bergiliran selama lima hari pasaran. Misalnya hari ini Senin Legi adalah hari pasaran di pasar Legi di kota A maka para pedagang yang kemarin berdagang di pasar Kliwon di kota B sekarang berdagang di pasar Legi di kota A. Begitu seterusnya.
Alkisah ada sebuah keluarga pengemis yang hidup menggelandang. Mereka hidup secara nomaden, tidak pernah menetap, berpindah dari satu pasar ke pasar lainnya, sesuai dengan urutan hari pasaran. Hari pasaran adalah hari panen raya bagi pengemis. Pada hari pasaran setiap pasar penuh sesak oleh para pedagang dan pembeli dari segala penjuru. Demilian juga para pengemis juga berdatangan dari mana-mana. Bahkan malam sebelum hari H mereka sudah mencari-cari lapak kosong untuk bermalam. Dengan demikian mereka tidak akan kesiangan untuk mengemis.
Sore itu salah satu keluarga pengemis juga tengah bergegas dengan berjalan kaki menuju pasar Legi. Mereka adalah keluarga pak Kromo. Pak Kromo dan Mbok Kromo memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki satu perempuan. Anak yang pertama ditinggal di kampung bersama neneknya. Yang ikut berkelana anak yang kedua dan ketiga. Anak yang kedua bernama Parinten, 7 tahun. Anak yang ketiga bernama Paiman, 4 tahun. Mbok Kromo menuntun Parinten sedang Paiman nangkring di pundak Pak Kromo. Sebelum gelap mereka harus sudah sampai di pasar Legi agar bisa memilih warung kosong yang paling nyaman dan aman. Di antara para gelandangan biasa berebutan warung kosong buat bermalam.
Di pasar Legi sebenarnya ada pilihan lain yang lebih permanen dan tidak harus pindah-pindah, yaitu di kolong jembatan dan di gerbong kosong. Di kolong jembatan enaknya, bangunannya kokoh dan tidak akan ada yang mengusir. Di sini ada beberapa keluarga gelandangan yang tinggal. Masing-masing membuat sekat-sekat untuk menjaga privasi masing-masing. Repotnya kalau lagi banjir. Seram, takut terbawa arus kalau airnya meluap. Tidak banjirpun seram juga, terutama bagi Paiman. Dia takut melihat ke bawah. Tinggi dinding sungainya. Dia takut ketinggian, singunen takut jatuh. Ditambah lagi posisi lantainya yang miring ke arah bibir sungai. Paiman takut setiap membayangkan saat tidur bagaimana kalau tiba-tiba menggelinding ke bawah. Belum lagi berisiknya minta ampun, terutama bila yang sedang melintas kendaraan besar, seperti bus dan truk besar, suka terbangun meskipun sedang tidur.
Pilihan lain adalah tidur di gerbong kosong. Di pasar Legi ada setasiun kecil. Di situ ada banyak gerbong tua yang terbuat dari kayu yang teronggok di pinggiran, jauh dari lintasan kereta api. Sekitar sebulanan keluarga pak Kromo tinggal di gerbong kosong. Asik seperti di dalam rumah. Ada beberapa keluarga gelandangan yang tinggal di sini. Paiman dan Parinten suka bermain meniti rel sambil bergandengan tangan. Mereka juga senang naik gerbong yang sedang langsir. Ketika “jleng....!!” mereka pun tertawa-tawa riang. Juga saling mentertawakan ketika kepalanya kejedot dinding gerbong setiap keretanya langsir. Kalau malam, kereta-kereta yang berhenti dan lalu lalang nampak indah dari luar jendela dengan lampu-lampu neon yang putih dan terang. Di stasiun juga menjadi tempat favorit buat mengemis. Para penumpang umumnya punya duit dan mau bersedekah biar didoakan selamat sampai tujuan.
Besok hari Senin Legi, hari pasaran. Paiman bersama kakak perempuan dan kedua orang tuanya sudah booking lapak kosong. Pas buat berempat. Mbok Kromo sibuk menyiapkan buat tidur nanti malam. Menggelar tikar lusuh. Tikar ini selalu di bawa ke mana-mana; tanpa bantal. Sebagai ................
BERSAMBUNG .............

Tidak ada komentar:
Posting Komentar