Hampir semalaman mbok Kromo tidak bisa tidur, takut kalau bangun kesiangan. Bila kesiangan gagallah semua yang telah direncanakan secara rapi. Belum jam tiga pak Kromo sudah dibangunkan agar cepat pergi. Begitu pak Kromo pergi mbok Kromo membangunkan anak-anak dan berkemas-kemas. Setelah semua rapi dan siap mbok Kromo segera pergi bersama kedua anaknya meninggalkan pasar Kliwon secara diam-diam.
“Ayo Le, nduk cepat nanti keretanya keburu berangkat !” Kata mbok Kromo sambil menuntun kedua anaknya meninggalkan pasar.
“Mbok, mana Bapak. Aku mau sama Bapak Mbok.” Kata Paiman merasa tidak tega meninggalkan bapaknya.
“Biar nanti Bapak menyusul Le. Kita pergi duluan. Mau belut sama setut kan? Ayo cepat !” Bujuk mbok Kromo sambil berlinangan air mata. Hatinya ikut terharu harus meninggalkan lelaki yang sebenarnya masih dicintainya itu. Lelaki yang selalu bersamanya, baik dalam suka maupun duka hampir sepuluh tahun. Kalau tidak demi masa depan anak-anak mungkin mbok Kromo tidak tega meninggalkannya.
Untungnya belum fajar. Langit masih gelap. Belum kelihatan apa-apa dan orang-orang pun belum pada bangun. Pak Kromo mengambil arah ke utara ke arah pasar Pahing. Mbok Kromo ke arah selatan ke arah kota Bulakombo. Jadi tidak mungkin berpapasan. Biar cepat jalannya Paiman digendong di belakang ditaruh di atas bundelan pakaian. Parinten jalannya bahkan lebih cepat karena tidak membawa beban. Sesekali mbok Kromo menoleh ke belakang, takut kalau pak Kromo tidak jadi ke pasar Pahing dan mengejar ke arah sini.
Hari sudah terang. Matahari sudah terbit. Berkali-kali Parinten minta istirahat, namun mbok Kromo baru mengiyakan setelah menemukan tempat yang kira-kira aman dan tidak nampak dari jalan raya. Mereka istirahat di belakang bangunan kosong sambil makan nasi, bekal yang sudah disiapkan dari kemarin sore. Mbok Kromo tidak ingin berpapasan dengan orang yang dikenal oleh pak Kromo. Biar tidak ada yang melaporkan kepada pak Kromo.
Setelah makan dan minum dan tenaganya pulih segar, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Karena cuaca sudah terang, sekarang Paiman disuruh jalan sendiri. Baru dua ratusan meter, dia sudah mengeluh capek. Gantian Parinten yang menggendong, tetapi hanya sebentar. Berat katanya. Untungnya Parinten punya taktik agar Paiman mau jalan sendiri.
“Sini Man, Coba dengarkan ada suara apa ini?” Kata Parinten sambil menempelkan telinganya di tiang telepon.
“Iya Yu ada suara menderu-deru.” Kata Paiman keheranan.
“Coba tiang yang satunya lagi yang di sana Man.” Parinten mencoba mengajak Paiman bermain dulu-duluan sampai di tiang berikutnya. Demikianlah seterusnya tanpa terasa entah sudah berapa tiang dilalui hingga akhirnya tiba di kota Salam. Di kota ini dilewati bus jurusan Bulakombo..
Kira-kira jam 10.00 lewatlah bus yang ditunggu-tunggu. Legalah mbok Kromo. Telah bebas dari kekhawatiran terkejar oleh pak Kromo. Demikian juga anak-anak. Mereka bergembira sekali. Ini pertama kali mereka naik bus. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya mereka bertanya ini dan itu. Mereka baru diam ketika tertidur karena kelelahan. Demikian juga mbok Kromo sebentar kemudian juga terlelap. Bukan hanya lelah badan tetapi juga lelah jiwa, menghadapi ketegangan selama beberapa hari terakhir ini. Sebuah penantian panjang yang amat melelahkan. Untuk sementara, khususnya mbok Kromo merasa telah lepas dari mimpi buruk terperangkap dalam lingkaran penderitaan lahir batin yang tiada banding. Sepanjang hidupnya belumlah dia merasakan kehidupan sehina dan senista itu. Selama dua tahun telah melalui tahapan kehidupan terendah dalam tataran kehidupan manusia. Bayangkan saja, bagaimana derajat orang yang berebut sisa-sisa makanan yang telah dibuang di tong sampah dengan makhluk lain yang berkaki empat. Ini berarti derajatnya tidak jauh beda dengan makhluk itu yang juga sama-sama makan dari tempat yang sama.
Mbok Kromo terbangun ketika tiba-tiba terdengar kegaduhan. Para penumpang berebutan turun. Ternyata bus berhenti, tidak bisa melanjutkan perjalanan karena di depan ada sebuah jembatan yang roboh. Mbok Kromo dan kedua anaknya ikut turun. Agar sampai di kota Bulakombo mereka harus menyeberangi sungai dengan berjalan kaki.
Dengan menumpang angkot, akhirnya mereka sampai di setasiun Bulakombo. Setelah membeli tiket, mbok Kromo dan kedua anaknya segera naik kereta yang sudah hampir berangkat. Ini kereta terakhir. Kereta mulai berangkat jam 17.00. Nyaris saja mereka ketinggalan kereta. Kereta ekonomi jurusan Lembong Penumpang penuh sesak. Banyak yang tidak kebagian kursi. Para pedagang asongan lalu lalang. Inilah yang ditunggu-tunggu Paiman. Tidak lama kemudian terdengar salah seorang pedagang menawarkan belut goreng. Paiman pun bersorak kegirangan, Keinginannya segara terpenuhi. Mbok Kromo membeli dua bungkus. Satu bungkus dimasukkan kandi, Satu lagi dibuka dan dimakan sama-sama. Tangan kanan dan tangan kiri Paiman semua memegang belut goreng. Mulutnya tidak henti-hentinya mengunyah makanan yang paling digemaranya itu.
Tak terasa sejam kemudian mereka telah sampai di setasiun Lembong. Mereka turun. Mbok Kromo kemudian bermaksud mencari bus jurusan Winongo. Menurut petugas bus yang ke sana sudah habis. Ada lagi besok pagi jam 06.00 pagi. Mbok Kromo terpaksa menginap di stasiun. Meskipun tidak beralaskan apapun mereka tidur dengan lelapnya. Inilah malam pertama kali mereka tidur di dunia beradab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar